Sewaktu kecil, saya sering merasa kesal
dan bosan jika ibu saya sudah mengajak pergi ke panti-panti. Pada
saat itulah saya merasa, keluarga saya berbeda dengan keluarga
teman-teman saya. Jika yang lain bercerita kehebohan keluarga pergi
ke tempat hiburan tertentu, saya hanya bisa terdiam membayangkan
panti mana lagi yang akan dijadikan ibu saya sebagai tempat liburan
saya.
Memang terkadang kami pergi ke luar
kota bersama-sama atau ke rumah saudara, namun jiwa ibu saya
sepertinya memang tidak pernah bisa terlepas dari mereka yang
termarjinalkan. Tidak hanya di panti, di kiosnya yang ada di sebuah
pusat perbelanjaan saja, ibu kerap membawa anak jalanan yang
ditemuinya di dekat lampu merah. Di sana ibu memberi mereka
makan-minum sampai puas. Tak jarang cerita mengalir panjang dari
mulut anak-anak itu. Saya sewaktu itu tidak ada minat
mendengarkannya, namun pastinya ibu akan menceritakan ulang semua
kisah sedih yang dialami anak-anak itu; tentang rumah mereka yang
hanya berukuran sekios kami, tentang kesedihan mereka putus sekolah;
sampai tentang perceraian orang tua mereka.
Nyatanya, segala kebosanan dan
kejengkelan saya menghadapi ulah ibu yang terlalu suka kepada panti
dan anak jalanan memberi investasi tersendiri bagi saya. Ya, itu
adalah investasi simpati dan rasa syukur. Beranjak dewasa hingga
sampai sekarang, makin lama saya kian paham bahwa kesulitan di
kehidupan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan anak-anak cacat di
panti ataupun anak jalanan yang nasibnya memang kian terpuruk.
Tanpa sadar “pelatihan liburan”
yang diberikan ibu sewaktu kecil membuat saya menjadi peka dan lebih
mudah tersentuh. Itu juga membuat saya menjad jeli membedakan orang
yang benar-benar sulit atau hanya berpura-pura susah. Namun,
investasi terbesar dari itu semua tentulah rasa syukur. Hingga kini,
sulit bagi saya tidak mensyukuri segala sesuatu yang saya terima
ataupun tidak saya terima. Untuk itu semua, saya cuma bisa
menngucapkan terima kasih buat mama di surga. Kamu guru terbaik, Ma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar