Tiap bulan waktu itu saya hidup sangat hemat, membagi uang upah ke berbagai pos, dengan yang terbesar ada di pos tabungan. Itu dia, supaya bisa senang-senang di kemudian hari. Selang beberapa bulan, untuk anaknya cepat sadar. Pos tabugan di buku rekening kian menurun gara-gara dipotong biaya administrasi bank. Bunga bank? Ada sih, tapi paling Rp 100,-. Ironis.
![]() |
| sumber: dearfrenz.com |
Pas saya coba hitung-hitung kira-kira uang tabungan yang sudah saya kumpulkan bisa dipakai untuk apa, ternyata hasilnya mengecewakan. Kenapa? Soalnya harga-harga barang naik, biaya transportasi naik, tapi tabungan malah cenderung terus beberapa ribu rupiah tiap bulan.
Berbekal rasa kesal, akhirnya saya coba mencari ilmu soal "menabung yang benar". Alhasil, ternyata untuk mengalahkan inflasi yang membuat nilai tabungan semakin kecil, investasi adalah jawabannya.
Mulai dari sana, porsi untuk pos tabungan saya perkecil. Tidak sampai 10 persen. Kalau gila, mungkin saya akan menginvestasikan semua jatah tabungan yang dulu untuk investasi. Namun, ada logika yang berjalan bahwa kadang kala ada kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditanggulangi oleh pencairan investasi yang tidak terlalu cair. Jadinya, si tabungan ini tetap ada untuk hal-hal urgen, bisa juga untuk liburan atau membeli sesuatu yang diinginkan. Intinya, yang penting adan tabungan untuk jaga-jaga. Kalau mau biar uangnya numbuh, investasikan saja!
Ya, ini cuma pengalaman sih dari alumnus baru seumur jagung menyandang predikatnya. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar