Jumat, 05 Desember 2014

Sendiri


"Saat liburan ini berakhir, aku ingin ada yang menemaniku”


 
Bunyi gesekan batang ranting terdengar jelas menemani satu-satu langkahku. Mengitari tempat ini sungguh tidak membosankan. Memandang langit yang telah kelam tanpa bintang. Kata ibu: Ini pasti pertanda hujan. Aku tak peduli. Bukankah jika hujan datang, keromantisan jalan ini akan semakin bertambah? Yang terdengar bukan hanya ranting-ranting yang saling beradu, melainkan juga tetes-tetes hujan yang berhambur ke bumi. Sungguh, suasana yang tercipta pasti akan romantis jika hujan benar-benar tiba.

Aku memandang jalan lurus di depanku yang dihiasi pohon-pohon sakura yang tak berbunga. Aku menatap tanjakan-tanjakan yang sempat kulalui bersama banyak tapak kaki yang gembira. Aku menghela napas sebentar. Aku tersenyum dan kembali memandang langit yang kilaunya telah lama memudar.

***
            “Anginnya kencang!” seru Lintang sembari merapikan poninya yang berantakan. Kemudian, ia berlari menjauhi pinus-pinus yang seolah gontai diterpa angin. “Ayo, cepat!” katanya kembali. Ia mengayun-ayunkan tangannya tinggi, menyuruh kami agar segera mengikuti langkahnya.

            Derap kaki kami menjadi serempak. Berlari mengikuti jejak kaki Lintang yang entah mengapa terasa begitu ringan. Ia berlari cepat. Hanya tawa riangnya yang terdengar sesekali menggema di tempat ini. Ah, liburan ini pasti akan lebih menyenangkan jika angin tidak berembus terlalu kencang. Tidak takutkah Lintang jika angin itu akan merobohkan pinus-pinus yang rapuh itu? Tidak takutkah Lintang jika angin itu juga akan menerbangkan ranting-ranting tajam ke arahnya? Kuyakin tidak. Buktinya, ia masih berlari dengan tegar menuju tempat yang ingin ia tuju. Tempat yang sempat kuceritakan pagi tadi saat kami masih di penginapan. Sebuah air terjun.  Karena keberaniannya pula kami diberanikan. Entah mengapa, kami semua akhirnya menghapus rasa takut kami untuk menemani Lintang.

            “Aku takut,” ujar Indri. Dengan perlahan ia menghentikan langkahnya. Berdiri dengan muka pucat, kemudian menggelengkan kepalanya kencang. “Anginnya makin kencang. Ini bahaya, tahu!”

            Aku mengerti kekhawatiran Indri. Kegusarannya melihat angin yang semakin ganas. Jujur, keberanianku juga semakin luluh. Rasa takut mencuat. Takut akan kematian. Ya, manusiawi bukan?

            “Gue juga.” Akhirnya, Rino ikut-ikutan. Disusul kemudian dengan yang lain. Keberanian Indri mengungkap ketakutannya telah menghilangkan keberanian yang lain untuk ikut ekspedisi Lintang.

Satu persatu dari kami memutuskan untuk mundur dan kembali ke penginapan. Aku pun setuju. Kudengar langkah kaki Lintang yang semakin menghilang. Ia telah semakin jauh. Kukatakan pada semua bahwa kami harus mengajak Lintang pula untuk kembali. Mereka mengangguk. Aku dan beberapa temanku berlari mengejar Lintang. Kudapati ia sedang mengagumi dahan-dahan sakura yang belum juga berbunga.

“Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai, loh,” ujarnya menyadari kehadiranku

.           “Masih jauh, Tang. Bahkan aku agak lupa tempatnya. Angin juga makin kencang. Yang lain sepakat buat balik ke penginapan.” Aku berusaha memberi penjelasan. Teman-teman yang ikut denganku mengangguk menyetujui.

            Wajah Lintang sarat dengan kekecewaan. “Padahal kan udah hampir nyampe,” katanya pelan.

            “Kita lanjutin liburan yang selanjutnya aja ya, Tang.”

            Dia menggeleng. “Liburan berikutnya aku mau ke tempat lain. Jadi liburan yang ini harus diselesaikan dululah,” rengeknya memelas.

            Akan tetapi, kami semua sudah memutuskan. Liburan kali ini berakhir. Angin kencang telah memporak-porandakan rencana kami. Kami harus kembali ke penginapan.

            “Ya sudah, kalau kalian mau pulang, pulang saja. Aku masih mau liburan. Aku masih mau melihat air terjun. Sendirian juga bisa, kok!”

            Mendengar keputusan Lintang, kami semua berpandangan. “Dia akan kembali kok kalau anginnya makin kencang dan ia rasa semakin berbahaya. Dia sudah dewasa, kan?” kata salah seorang temanku. Ia berusaha menenangkanku dan kami semua yang hanya bisa terpaku pada pijakan kami saat melihat Lintang terus berlari menjauhi kami. Aku menganguk, meyakini diri sendiri bahwa perkataan temanku itu benar.

***

            Aku masih memandang kelamnya langit. Rintik hujan pertama jatuh tepat di batang hidungku. Aku tersenyum sendiri. Kata Ibu: Jika rintik hujan pertama jatuh di hidungmu, kamu akan mendapatkan pria idamanmu. Ah, benar tidak ya? Kalau iya, apa aku bisa menukarnya dengan permintaan lain? Aku hanya ingin pria idamanku mau berlibur bersamaku saat ini. Tidak peduli cuaca buruk atau gelapnya malam.

            Rintik air yang jatuh bukan lagi tetes demi tetes. Hujan dengan cepat mengguyur semua yang ada di bumi, termasuk aku. Aku menggigil, namun aku merasa bahagia. Aku terdiam cukup lama. Mungkin benar kata mereka, sudah saatnya aku menyudahi liburan ini. Aku harus kembali.

            Aku menengadahkan kepalaku menantang hujan. Ah, apa bedanya hujan dengan air terjun. Sama-sama jatuh dari tempat tinggi, bukan? Ya, anggap saja ini adalah air terjun yang Tuhan kirim untuk mengobati liburanku yang kacau karena cuaca. Ya, anggap saja demikian.

            Aku tersenyum. Kemudian, kulangkahkan kaki menjauhi pohon-pohon sakura yang gundul ini. Kunaiki tanjakan yang sempat kuturuni bersama dengan yang lain. Ah, kali ini aku sendiri menaikinya.

***

            Mataku nanar dan sembab. Aku hanya bisa memandang Lintang dengan nelangsa. Matanya tersenyum seolah-olah berkata, “Kenapa kamu menangis?” Aku merasa air mata mulai membentuk sungai kecil di pipi. Kutahan isakku. Aku menyesal Lintang. Sungguh, aku menyesal karena tidak menemani liburanmu kemarin. Aku menyesal telah membuatnya berlibur sendiri ke tempat asing kini. Aku menyesal Lintang. Sungguh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar