Rabu, 17 Desember 2014

Guru Terbaik

Sewaktu kecil, saya sering merasa kesal dan bosan jika ibu saya sudah mengajak pergi ke panti-panti. Pada saat itulah saya merasa, keluarga saya berbeda dengan keluarga teman-teman saya. Jika yang lain bercerita kehebohan keluarga pergi ke tempat hiburan tertentu, saya hanya bisa terdiam membayangkan panti mana lagi yang akan dijadikan ibu saya sebagai tempat liburan saya.

Memang terkadang kami pergi ke luar kota bersama-sama atau ke rumah saudara, namun jiwa ibu saya sepertinya memang tidak pernah bisa terlepas dari mereka yang termarjinalkan. Tidak hanya di panti, di kiosnya yang ada di sebuah pusat perbelanjaan saja, ibu kerap membawa anak jalanan yang ditemuinya di dekat lampu merah. Di sana ibu memberi mereka makan-minum sampai puas. Tak jarang cerita mengalir panjang dari mulut anak-anak itu. Saya sewaktu itu tidak ada minat mendengarkannya, namun pastinya ibu akan menceritakan ulang semua kisah sedih yang dialami anak-anak itu; tentang rumah mereka yang hanya berukuran sekios kami, tentang kesedihan mereka putus sekolah; sampai tentang perceraian orang tua mereka.


Nyatanya, segala kebosanan dan kejengkelan saya menghadapi ulah ibu yang terlalu suka kepada panti dan anak jalanan memberi investasi tersendiri bagi saya. Ya, itu adalah investasi simpati dan rasa syukur. Beranjak dewasa hingga sampai sekarang, makin lama saya kian paham bahwa kesulitan di kehidupan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan anak-anak cacat di panti ataupun anak jalanan yang nasibnya memang kian terpuruk.


Tanpa sadar “pelatihan liburan” yang diberikan ibu sewaktu kecil membuat saya menjadi peka dan lebih mudah tersentuh. Itu juga membuat saya menjad jeli membedakan orang yang benar-benar sulit atau hanya berpura-pura susah. Namun, investasi terbesar dari itu semua tentulah rasa syukur. Hingga kini, sulit bagi saya tidak mensyukuri segala sesuatu yang saya terima ataupun tidak saya terima. Untuk itu semua, saya cuma bisa menngucapkan terima kasih buat mama di surga. Kamu guru terbaik, Ma. 

Selasa, 16 Desember 2014

ARISAN!!!

Siapa sih yang tidak suka ngumpul-ngumpul sama teman, membicarakan segala hal absurd, hingga akhirnya ketawa-ketiwi nggak jelas. Tentu hampir semua orang menyukainya. Berbincang dan berkumpul bersama teman menjadi ajang yang dinanti saat himpitan pekerjaan mulai menyerang. Apalagi pada akhir tahun semacam ini, saat suasana liburan mulai berembus ke arahmu. 

Namun sebenarnya, untuk bertemu teman dan mulai bercengkerama ria tidaklah perlu menunggu liburan. Cukup sedikit selakan waktu guna berjumpa mereka yang kamu sayangi. Cumaaaa, ya itu dia, kadang-kadang alasan untuk bertemum menjadi kabur karena tujuannya pun tidak jelas hingga akhirnya kita memilih pekerjaan yang lebih pasti saja. 

Sebenarnya, ada satu trik untuk mengatasi masalah ini. ARISAN. Ya, dengan cara ini kita bisa punya alasan kuat buat bertemu teman-teman kita: mengocok arisan. Jadi, setiap bulan pasti kita menyempatkan diri temu kangen dengan teman-teman. Walaupun nominal arisannya kecil, itu tidak jadi masalah. Inti pertemuan itu tetaplah berjumpa sahabat-sahabat, bertukar cerita, namun sekaligus berharap-harap cemas mendapat pemasukan tambahan dari arisan atau tidak. 
sumber: nyunyu.com
Ketika menjalani arisan, secara tidak sadar kita juga sedang berinvestasi loh. Ada dua investasi yang kita tanam di sini, yaitu keakraban bersama teman dan tentu saja investasi keuangan. Dibilang sedang memupuk investasi pertemanan karena melalui ajang ini, intesitas pertemuan kita dengan sahabat menjadi terjaga. Kalau dibilang investasi keuangan, ya karena kalau kita dapat kocokan arisan, uangnya bisa segera kita belikan jenis investasi yang sesuai. 

Sebagai contoh, kita ikut arisan dengan nilai Rp100.000 yang diikuti 10 orang. Jika nominal Rp100.000 itu kita pegang di tangan dalam sekali waktu, pasti cepat habis tanpa sisa. Namun, jika kita masukkan itu ke arisan, tanpa terasa kita telah menabung. Sekali mendapat arisan, uang yang kita dapat bisa Rp1 juta. Nah, uang hasil arisan itu bisa kita belikan 2 gram emas Logam Mulia atau 2,5 gram perhiasan emas. Bisa juga untuk tambah investasi saham di rekening reksadana kita. Menarik bukan? Enaknya, kita merasa tidak mengeluarkan banyak uang untuk hal tersebut. Jika sudah membeli jenis investasi tertentu, kita tinggal menunggu hingga akhirnya uang itu yang berputar dan bekerja demi kita ini, pemiliknya. :)

Jadi, bisa dibilang arisan adalah cara yang tepat untuk menabung kecil-kecilan agar ke depannya bisa mengambil investasi jenis tertentu. Arisan juga adalah cara membangun investasi pertemanan agar intensitas pertemuan bisa diatur dan kita bisa melepaskan penat dengan sahabat-sahabat kita. Do you wanna try?

Minggu, 14 Desember 2014

70 atau 75?

"Perhatikan kadar perhiasan emas yang kita beli!"


Tak bisa dimungkiri, perhiasan emas menjadi bentuk investasi yang terkenal sepanjang masa. Dari zaman kakek-nenek hingga sekarang, jenis investasi keuangan yang satu ini tak pernah pudar namanya. Kehadiran logam mulia ataupun saham seakan tidak memengaruhi gemilangnya si emas perhiasan untuk menjadi primadona.

Kenyataan ini tak lepas dari fungsi ganda yang dimiliki oleh perhiasan emas. Pertama, emas perhiasan merupakan salah satu bentuk investasi yang mumpuni. Memiliki investasi keuangan dalam bentuk ini tidak akan membuat kita rugi. Sifatnya sangat cair sehingga mudah dijual kembali tanpa proses yang jelimet. Nilainya pun tidak terlalu fluktuatif, namun terus berkembang secara dinamis.

Kedua, jenis emas yang satu ini bukan hanya menjadi benda mati yang tersimpan dalam brankas atau deposit box di bank. Perhiasan emas dapat dikenakan pada momen-momen yang tepat. Pengenaannya kerap membuat penampilan menjadi lebih elegan dan berkelas. Desainnya juga beraneka ragam sehingga banyak orang terpacu untuk terus membeli perhiasan emas agar koleksinya semakin bertambah dengan desain yang semakin mapan. Tentu saja itu di luar fungsi emas sebagai investasi keuangan.

Perhiasan emas bisa didapatkan di setiap toko emas. Namun disarankan, lebih baik membeli di toko emas yang jaringannya luas sehingga meminamalisasi kemungkinan risiko emas yang dijual di toko itu bodong. Secara logika, jika cabangnya sudah di mana-mana, keberadaan sebuah toko akan mudah terlacak. Jika toko tersebut melakukan penipuan, tindakannya juga akan mudah terendus.

Ada sedikit yang harus diketahui saat membeli perhiasan emas, yaitu kadarnya. Yap, kadar perhiasan emas tentu berbeda dengan emas jenis logam mulia. Di sinilah letak kekurangjelian masyarakat kita. Banyak di antara pembeli emas lebih mempertanyakan karat emas dari perhiasan yang dibelinya. Karat yang tenar di Indonesia adalah emas berkarat 23. Namun harus diperhatikan, kadar di emas karat 23 belum tentu sama satu dengan yang lainnya.

Umumnya lagi, perhiasan emas berkarat 23 di Indonesia rata-rata berkadar 70-75%, baik untuk emas kuning atau emas putih. Inilah yang membuat harga emas di sebuah toko lebih murah atau lebih mahal ketimbang di toko lain. Namun, ada saja toko yang coba memanipulasinya. Tanpa memberitahu calon pembeli, toko tersebut menjual emas kadar 70% setara dengan harga emas berkadar 75%. Ini diakibatkan pembeli tidak banyak bertanya mengenai kadar emas itu.

Karena itu, pastikan selalu menanyakan kadarnya saat hendak membeli emas perhiasan. Jangan terkecoh dengan harga yang lebih murah beberapa ribu tiap gramnya di sebuah toko. Bisa jadi, kadar yang dijual memang berbeda dan malah membuat biaya pembelian menjadi lebih mahal. Tidak mau, bukan? (*)

Rabu, 10 Desember 2014

Jangan Cemas, Ada Butik Emas

Logam mulia atau batangan yang murni menjadi salah satu jenis investasi yang memikat hati. Tertarik mencoba mulai berinvestasi emas Antam, tapi takut tertipu atau takut yang dibeli itu emas bodongan? Di sisi lain, jarak rumah untuk ke kantor Antam Pulo Gadung terlampu jauh dan malas mengantre. Sekarang tidak masalah.

Untuk yang berdomisili sekitar Jakarta Selatan ataupun Depok khususnya dan bagi warga Jabodetabek umumnya, sekarang kita bisa mulai berinvestasi emas dengan langsung mendatangi kantor pusat Aneka Tambang (Antam) di Jalan TB Simatupang. Tadinya di sana tidak dapat melayani pembelian emas. Namun sejak beberapa bulan lalu, kantor pusat Antam ini telah memiliki Butik Emas yang dapat memenuhi keinginan untuk mendapatkan logam mulia tersebut.

Masuk ke dalam kantor pusat Antam tidaklah sulit. Pengamanannya pun tidak ribet. Begitu masuk kantornya, Anda tinggal berbelok ke arah kiri untuk menjumpai sang Butik Emas. Tidak seperti di Antam Pulo Gadung yang antreannya cukup panjang, peminat emas di Butik Emas Antam TB Simatupang ini cenderung tidak terlalu banyak. Hanya hari-hari tertentu saja Anda akan menjumpai antrean yang sedikit mengular.

Di Butik Emas Antam, kita akan disambut baik oleh para petugas. Jika baru pertama kali hendak membeli emas di sini, jangan lupa membawa KTP atau SIM sebab data identitas kita akan disimpan sebagai salah satu syarat membeli emas dari Butik Emas.

Tidak perlu lama mengisi administrasi pembelian, semuanya di-input langsung oleh petugas, kita tinggal menyebutkan data yang dibutuhkan dan menunjukkan kartu identitas. Setelah itu, kita bisa langsung memilih emas logam mulia yang diinginkan, di sana tersedia dari ukuran 1 gram hingga 500 gram.

Butik Emas tidak menerima pembayaran secara cash, hanya ada fasilitas pembayaran debit atau transfer. Jadi, pastikan Anda membawa kartu ATM, seperti BRI, Mandiri, BCA, dan Bank Permata. Untuk BRI, limitnya sedikit lebih kecil, hanya Rp 10.000.000. Kalau tidak ada ATM berjaringan ATM Bersama, Anda bisa membawa uang tunai dan langsung mentransfernya melalui Bank Mandiri yang
kantor cabangnya masih ada dalam gedung Antam TB Simatupang.

Jika melakukan pembayaran dengan transfer, petugas akan memberikan bill untuk Anda beserta nomor rekening yang dituju. Setelah mentransfer, Anda harus kembali petugas untuk menyerahkan bukti transfer. Barulah setelah itu Anda dapat masuk ke loket kecil tempat emas diserahkan.

Pastikan ketika menerima emas, Anda juga mendapat struk pembayaran beserta sertifikat emas yang dibeli. Sertifikatnya ada dua. Pertama, sertifikat yang ada dalam bungkusan emasnya. Khusus untuk pembelian emas 10 gram ke atas, pastikan nomor seri emas di sertifikat dengan di permukaan lempengan yang Anda miliki sama. Kedua, sertifikat pembelian yang mencantumkan nama Anda sebagai pemilik emas tersebut.


Nah, tunggu apalagi. Sekarang membeli emas semakin mudah. Kalau masih ragu-ragu membeli logam mulia di tempat yang belum terpercaya, langsung saja datang ke Butik Emas di kantor pusat Antam, Jalan TB Simatupang.

Senin, 08 Desember 2014

Si Properti yang Memikat

Jika di tulisan sebelumnya sudah dibahas jenis-jenis investasi apa saja yang bisa dnikmati untuk dijalankan, ada lagi nih satu jenis investasi keuangan sangat gereget. Dia adalah PROPERTI! Tulisannya sengaja aku capslock karena memang jenis investasi yang satu ini besar segala-galanya. Modalnya besar. Untungnya besar. Biaya pemeliharaannya besar. Karena itu pula, aku membahasnya sendiri dalam tulisan yang berbeda, terpisah sama jenis investasi lainnya.

sumber: pixabay.com
Yang dapat dikategorikan properti itu, antara lain tanah, rumah, apartemen, kondotel, dan kawan-kawannya. Jenis investasi keuangan yang satu ini memang menggiurkan. Bagaimana tidak, jika investasi lain harus menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan untung optimal, si properti dengan gampang menggasak keuntungan layaknya perampok bank.

Sebagai ilustrasi, misalnya kamu membangun rumah di suatu tempat dengan dana Rp 200 juta, bisa saja kamu langsung menjualnya ketika rumah itu jadi dengan harga 2-3 kali lipat dari modal. Sangat memikat, bukan! Itulah yang selama ini dilakukan oleh para pengembang apartemen, perumahan, hotel, dan lain sebagainya. Potensi yang sedemikian besar juga yang membuat sektor properti sangat berkembang di Indonesia dewasa ini.

Namun, seperti yang sudah ditulis di awal, keuntungan berinves di properti memang besar, tapi modalnya juga tak kalah besar! Kalau kayak alumnus yang baru seumur jagung ini, menjadi pemain di sektor properti guna berinvestasi masih sekadar angan-angan. No money.

Meskipun keuntungnnya besar, sektor properti harus dimainkan dengan jeli. Tak jarang orang yang bersaku tebal tak memiliki keberanian untuk berinvestasi di properti. Memang itulah hukum investasi: high risk high return. Diperlukan tekad yang kuat dan keberanian yang besar untuk berinvestasi di sektor ini.

Untuk lebih jelasnya coba kupaparkan keuntungan dan kelemahan yang ada dalam investasi sektor ini.

KEUNTUNGAN

  1. Gampang dijual. Tak dapat memungkiri, mungkin karena sifatnya yang adalah kebutuhan dasar--berdasarakan pelajaran di SD dulu--properti diminati oleh banyak orang, tanpa mengenal tempat dan waktu. Tanah, rumah, dan apartemen selalu menjadi primadona dari waktu ke waktu sehingga menjualnya sangat gampang.
  2. Nilai tak pernah turun. Jika saat menjual emas atau mencairkan saham, kita harus memperhatikan kondisi saat itu: harganya sedang naik atau turun; tidak demikian dengan properti. Mau dijual kapan saja dan di mana saja, harganya pasti tidak pernah turun. Jadi saat bermain di jenis investasi ini, kamu bisa bernapas lega karena hartamu tak pernah mengalami penurunan nilai.
  3. Tidak pusing penyimpanan. Kalau investasi emas, pasti masalah penyimpanan menjadi beban pikiran tersendiri. Salah-salah naruh, emas itu bisa hilang atau digondol maling. Kalau berinvestasi properti, kamu tak perlu takut harus menyimpannya di mana.
  4. Keuntungan besar. Seperti yang sudah djelaskan pada pengantar, produk properti bisa dijual berkali-kali lipat dari modalnya. Keuntungannya bukan lagi receh, melainkan berlembar-lembar uang merah.
KELEMAHAN
  1. Modal besar. Bermain investasi properti tidak dapat menunggu waktu karena harganya kian lama makin menanjak. Sebagai contoh, harga tanah di Margonda, Depok,  pada tahun 1987 hanya sekitar Rp25.000 per meter persegi, namun sekarang sudah menyentuh angka Rp 5 juta per meter persegi. Modal besar inilah yang menjadi kelemahan terbesar bermain investasi di sektor ini bagi investor pemulai. 
  2. Pengurusannya ribet. Intinya, ini karena sistem birokrasi kita yang masih amburadul. Untuk pada akhirnya memilih properti sebagai sarana investasi, kamu harus mempertimbangan surat-surat perizinan bagi investasi kalian, seperti sertifikat tanah, izin mendirikan bangunan, dan segala macam. Pastikan juga jangan sampai lahan dan properti kalian merupakan sengketaan. Itu akan menimbulkan masalah di kemudian hari. 
  3. Pajak terus dinaikkan. Ini sebenarnya sama seperti biaya administrasi bank saat kita memutuskan memilih berinvestasi deposito. Namun, negeri yang sedang gencar mencari pemasukannya lewat pajak ini terus menaikkan biaya Pajak Bumi Bangunan (PBB). Kalian harus siap untuk biaya yang satu ini setiap tahunnya jika sudah memutuskan berinvestasi properti.
  4. Renovasi. Masalah ini terutama untuk investasi yang sudah berbentuk bangunan atau apartemen. Jika sudah ditempati sekian lama, tentunya harus ada peremajaan agar nilai jualnya tinggi. Untuk itu, dibutuhkan biaya yang juga tidak sedikit.
Yaps, itu sedikit pemaparan soal investasi properti. Bagi yang minat dan ada dananya, jangan tunggu-tunggu untuk mulai berinvestasi properti dari sekarang sebab harga tanah, rumah, dan teman-temannnya tidak pernah turun. Oke? Selamat berinvestasi!

Minggu, 07 Desember 2014

Segala Rupa Investasi Keuangan


sumber: trymasak.com
Jika sudah berbicara tentang investasi, rasanya itu sepertinya melihat makanan di undangan: rasa-rasanya ingin dilahap semua.  Sebenarnya, sah-sah saja mencobai semua jenis yang ada, namun salah-salah kita sakit perut karena kekenyangan atau bisa juga gatal-gatal karena alergi terhadap salah satu jenis makanan. Karena itu, penting mengetahui jenis-jenis makanan apa saja yang bisa kita santap tanpa membuat kita sakit karena kekenyangan. Ini sama halnya dengan memilih jenis investasi


Investasi itu berjuta rasa jenisnya. Kadang-kadang kita bisa kalap karena ingin mencobai semua jenis investasi keuangan tersebut. Namun, semua jenis investasi tentu memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Kita sebagai investonya yang harus pintar-pintar memilih jenisnya sesuai kebutuhan.  Jangan sampai jenis investasi yang kita pilih itu salah dan membuat tujuan kita akhirnya meleset.

Berikut sedikit pemaparan untuk tiap jenis investasi keuangan yang berdasarkan alumnus seumur jagung ini. Selamat menikmati!

1 Emas Perhiasan
Bisa dibilang, jenis investasi keuangan yang satu ini sifatnya paling cair. Dengan merebaknya toko emas di mana-mana, jika kita memiliki kebutuhan mendadak yang mengharuskan untuk mencairkan dana investasi, kita tidak perlu repot-repot mengurus penjualannya. Emasnya tinggal di bawah ke toko emas—ada juga toko online yang mau menerima—kemudian dapat langsung dijual saat itu. Harganya tentu memiliki harga pasar saat emas mau dijual. Membeli emas perhiasan pun bukan hal yang rumit. Bujet yang dibutuhka juga sangat fleksibel, dapat disesuaikan seluwes mungkin dengan anggaran yang dimiliki. Hal yang perlu dipertimbangan saat memutuskan berinvestasi emas perhiasan adalah penyimpanannya serta perawatan. Jenis emas ini di Indonesia cenderung kadarnya berkisar 70-75% jadi jangan berpikir perhiasan total kandungannya 100% sebab masih ada kuningan dan bahan-bahan lain di dalamnya. Saat menjualnya pun kita akan menerima potongan harga sekitar Rp20.000 tiap gram sebagai ongkos produksi.

2.  Logam Mulia
Jenis investasi keuangan yang satu ini lagi ngehits di kalangan menengah atas. Penyebabnya, harga logam mulia yang kian melesat dalam beberapa tahun terakhir. Jika kita datang ke Pegadaian saja contohnya, kita akan diberi selebaran yang berisi bagaimana si logam mulia ini sangat berprospek karena dari tahun di awal 2000-an hingga 2014, kenaikan harganya lebih dari 1000% atau 10 kali lipat. Tentu realitas ini sangat menggiurkan. Sama seperti emas yang berbentuk perhiasan, emas logam mulia juga sangat cair dan cepat dijual. Kita bisa menjualnya di toko emas atau Antam atau Pegadaian. Perlu kelihaian saat menjualnya karena terkadang harga yang diberikan satu toko atau lembaga dengan yang lainnya berbeda. Namun, penjualan logam mulia juga secara garis besar mengikuti harga pasar. Jika ingin membeli emas jenis ini, ambillah yang ukurannya lebih besar karena ongkos produksinya menjadi lebih murah. Lagi-lagi penyimpanan menjadi sedikit kendala bagi logam mulia. Bisa saja menyimpan di rumah. Itu tidak masalah. Namun, ada beberapa orang yang lebih memilih menyimpan logam mulia mereka di deposit box bank. Inilah yang membutuhkan dana lagi karena deposit box ukuran terkecil saja sekarang harganya bisa Rp600.000 per tahun. Kalau logam mulianya banyak, memang harga ini tidak terasa. Akan tetapi, jika logam mulianya hanya beberapa gram, tentu harga sedemikian besar sangat terasa sebab belum tentu kenaikan investasinya dalam setahun dapat sebesar itu.

3. Saham
Saham adalah lembaran kepemilikan yang bisa kamu peroleh dari perusahaan yang sudah go public. Harga per unit saham sangat bergantung kondisi dari dalam ataupun perusahaan tersebut. Jika kinerja perusahaan sedang baik dan nilai sahamnya meningkat, kamu bisa untung. Namun jika perusahaan sedang dalam gejolak, bisa saja kamu buntung. Jika kamu ingin berinvestasi saham, pastikan kamu memiliki kemampuan untuk memilih perusahaan yang dituju dan cara memprediksi kondisinya. Untuk berinvestasi keuangan jenis ini, uang yang akan dikeluarkan cukup sebesar karena ada ketentuan minimal saham yang harus dibeli. Namun, investasi jenis ini juga cukup cair. Jika ingin menjual saham, kamu hanya perlu menunggu prosesnya kurang dari seminggu hari kerja. Oh ya, apabila memutuskan memainkan investasi saham, pastikan kamu punya kejelian untuk melihat perusahaan mana yang akan berkembang dan yang mana akan kolaps.

4. Reksadana
Reksana hampir mirip dengan saham. Yang membedakannya adalah reksadana bermain di banyak saham perusahaan sehingga jika ada saham salah satu perusahaan yang jatuh, ada perusahaan lain yang dapat menyeimbangan nilai investasimu. Biasanya reksadana dikelola oleh manajer keuangan. Dialah yang akan sibuk bermain saham dan mencari celah untuk untung. Karena dikelola orang lain itulah, reksadana memiliki biaya administrasi. Namun tidak seperti yang mengharuskan nasabahnya membayar tiap bulan, investor reksadana hanya dipaksa membayar investasi ketika membeli atau menjual unit reksadananya. Besarannya relatif rendah pula, 0-3%.

5. Deposito
Sewaktu berkunjung ke bank, sering kita melihat ada layar yang menampilkan persenan bunga yang akan diterima nasabah jika menabung di tempat tersebut. Angka yang paling tinggi adalah jenis deposito. Karena inilah, deposito dapat dikategorikan investasi keuangan. Bunganya yang berkisar 5-7 persen membuat deposito mampu menahan nilai uang dari gerusan inflasi. Namun, membuka deposito membutuhkan dana yang cukup besar. Ada satu bank yang menerapkan minimal nominal bagi deposito sebanyak Rp8 juta, ada pula yang paling sedikit harus menyetorkan Rp25 juta. Kecairan investasi keuangan ini juga kalah dari emas perhiasan atau logam mulia dan reksadana sebab nasabah hanya dapat mengambil pada tenggat yang ditentukan, minimal tiga bulan. Jika mengambil di luar waktu itu, ada penalti yang akan memberi potongan bagi nilai depositonya


6. Unitlink
Pada sekali waktu, kamu membutuhkan asuransi untuk memproteksi kesehatanmu bahkan bisa juga jiwamu. Namun pada waktu yang bersamaan, kamu merasa membutuhkan persiapan keuangan masa depan. Nah, jika demikian, kamu mungkin bisa memilih sistem investasi keuangan unitlink sebagai jawabannya. Sistem ini menggabungkan asuransi dengan saham perusahaan sehingga sembari membayar premi asuransi, secara tidak langsung ada dana yang dialihkan untuk investasi. Tidak perlu pusing-pusing mengelolanya karena semua telah diatur oleh pihak asuransi. Kewajiban kita hanya tinggal membayar premi dalam jangka waktu yang ditentukan, kemudian berleha-leha menunggu pergerakannya. Untuk investasi keuangan jenis ini, tentu penyimpanan tidak lagi menjadi masalah. Namun, investasi jenis ini sangat tidak cair karena baru bisa diambil minimal setelah premi asuransi selesai, biasanya 10 tahun. Apabila nilainya dirasa belum terlalu memuaskan, kita harus menunggu lagi sampai ada pergerakan yang lebih positif dari dana investasi ini.

Selamat memilih jenis investasi yang sesuai selera Anda dengan segala keuntungan dan risikonya.  J

Jumat, 05 Desember 2014

Sendiri


"Saat liburan ini berakhir, aku ingin ada yang menemaniku”


 
Bunyi gesekan batang ranting terdengar jelas menemani satu-satu langkahku. Mengitari tempat ini sungguh tidak membosankan. Memandang langit yang telah kelam tanpa bintang. Kata ibu: Ini pasti pertanda hujan. Aku tak peduli. Bukankah jika hujan datang, keromantisan jalan ini akan semakin bertambah? Yang terdengar bukan hanya ranting-ranting yang saling beradu, melainkan juga tetes-tetes hujan yang berhambur ke bumi. Sungguh, suasana yang tercipta pasti akan romantis jika hujan benar-benar tiba.

Aku memandang jalan lurus di depanku yang dihiasi pohon-pohon sakura yang tak berbunga. Aku menatap tanjakan-tanjakan yang sempat kulalui bersama banyak tapak kaki yang gembira. Aku menghela napas sebentar. Aku tersenyum dan kembali memandang langit yang kilaunya telah lama memudar.

***
            “Anginnya kencang!” seru Lintang sembari merapikan poninya yang berantakan. Kemudian, ia berlari menjauhi pinus-pinus yang seolah gontai diterpa angin. “Ayo, cepat!” katanya kembali. Ia mengayun-ayunkan tangannya tinggi, menyuruh kami agar segera mengikuti langkahnya.

            Derap kaki kami menjadi serempak. Berlari mengikuti jejak kaki Lintang yang entah mengapa terasa begitu ringan. Ia berlari cepat. Hanya tawa riangnya yang terdengar sesekali menggema di tempat ini. Ah, liburan ini pasti akan lebih menyenangkan jika angin tidak berembus terlalu kencang. Tidak takutkah Lintang jika angin itu akan merobohkan pinus-pinus yang rapuh itu? Tidak takutkah Lintang jika angin itu juga akan menerbangkan ranting-ranting tajam ke arahnya? Kuyakin tidak. Buktinya, ia masih berlari dengan tegar menuju tempat yang ingin ia tuju. Tempat yang sempat kuceritakan pagi tadi saat kami masih di penginapan. Sebuah air terjun.  Karena keberaniannya pula kami diberanikan. Entah mengapa, kami semua akhirnya menghapus rasa takut kami untuk menemani Lintang.

            “Aku takut,” ujar Indri. Dengan perlahan ia menghentikan langkahnya. Berdiri dengan muka pucat, kemudian menggelengkan kepalanya kencang. “Anginnya makin kencang. Ini bahaya, tahu!”

            Aku mengerti kekhawatiran Indri. Kegusarannya melihat angin yang semakin ganas. Jujur, keberanianku juga semakin luluh. Rasa takut mencuat. Takut akan kematian. Ya, manusiawi bukan?

            “Gue juga.” Akhirnya, Rino ikut-ikutan. Disusul kemudian dengan yang lain. Keberanian Indri mengungkap ketakutannya telah menghilangkan keberanian yang lain untuk ikut ekspedisi Lintang.

Satu persatu dari kami memutuskan untuk mundur dan kembali ke penginapan. Aku pun setuju. Kudengar langkah kaki Lintang yang semakin menghilang. Ia telah semakin jauh. Kukatakan pada semua bahwa kami harus mengajak Lintang pula untuk kembali. Mereka mengangguk. Aku dan beberapa temanku berlari mengejar Lintang. Kudapati ia sedang mengagumi dahan-dahan sakura yang belum juga berbunga.

“Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai, loh,” ujarnya menyadari kehadiranku

.           “Masih jauh, Tang. Bahkan aku agak lupa tempatnya. Angin juga makin kencang. Yang lain sepakat buat balik ke penginapan.” Aku berusaha memberi penjelasan. Teman-teman yang ikut denganku mengangguk menyetujui.

            Wajah Lintang sarat dengan kekecewaan. “Padahal kan udah hampir nyampe,” katanya pelan.

            “Kita lanjutin liburan yang selanjutnya aja ya, Tang.”

            Dia menggeleng. “Liburan berikutnya aku mau ke tempat lain. Jadi liburan yang ini harus diselesaikan dululah,” rengeknya memelas.

            Akan tetapi, kami semua sudah memutuskan. Liburan kali ini berakhir. Angin kencang telah memporak-porandakan rencana kami. Kami harus kembali ke penginapan.

            “Ya sudah, kalau kalian mau pulang, pulang saja. Aku masih mau liburan. Aku masih mau melihat air terjun. Sendirian juga bisa, kok!”

            Mendengar keputusan Lintang, kami semua berpandangan. “Dia akan kembali kok kalau anginnya makin kencang dan ia rasa semakin berbahaya. Dia sudah dewasa, kan?” kata salah seorang temanku. Ia berusaha menenangkanku dan kami semua yang hanya bisa terpaku pada pijakan kami saat melihat Lintang terus berlari menjauhi kami. Aku menganguk, meyakini diri sendiri bahwa perkataan temanku itu benar.

***

            Aku masih memandang kelamnya langit. Rintik hujan pertama jatuh tepat di batang hidungku. Aku tersenyum sendiri. Kata Ibu: Jika rintik hujan pertama jatuh di hidungmu, kamu akan mendapatkan pria idamanmu. Ah, benar tidak ya? Kalau iya, apa aku bisa menukarnya dengan permintaan lain? Aku hanya ingin pria idamanku mau berlibur bersamaku saat ini. Tidak peduli cuaca buruk atau gelapnya malam.

            Rintik air yang jatuh bukan lagi tetes demi tetes. Hujan dengan cepat mengguyur semua yang ada di bumi, termasuk aku. Aku menggigil, namun aku merasa bahagia. Aku terdiam cukup lama. Mungkin benar kata mereka, sudah saatnya aku menyudahi liburan ini. Aku harus kembali.

            Aku menengadahkan kepalaku menantang hujan. Ah, apa bedanya hujan dengan air terjun. Sama-sama jatuh dari tempat tinggi, bukan? Ya, anggap saja ini adalah air terjun yang Tuhan kirim untuk mengobati liburanku yang kacau karena cuaca. Ya, anggap saja demikian.

            Aku tersenyum. Kemudian, kulangkahkan kaki menjauhi pohon-pohon sakura yang gundul ini. Kunaiki tanjakan yang sempat kuturuni bersama dengan yang lain. Ah, kali ini aku sendiri menaikinya.

***

            Mataku nanar dan sembab. Aku hanya bisa memandang Lintang dengan nelangsa. Matanya tersenyum seolah-olah berkata, “Kenapa kamu menangis?” Aku merasa air mata mulai membentuk sungai kecil di pipi. Kutahan isakku. Aku menyesal Lintang. Sungguh, aku menyesal karena tidak menemani liburanmu kemarin. Aku menyesal telah membuatnya berlibur sendiri ke tempat asing kini. Aku menyesal Lintang. Sungguh. 

6 Langkah Bermain Investasi

Setelah mulai sadar bahwa investasi lebih menguntungkan, saya mulai memilah-milih jenis apa yang terbaik buat saya. Jujur saja, banyak rekomendasi yang menyebutkan lebih bagus "investasi A" daripada "investasi B", tapi ada yang bilang "investasi B" lebih unggul daripada "investasi A". Lalu, aku harus apa?

Mulailah aku belajar semua jenis invetasi yang memungkinkan supaya si uang bisa bekerja buatku, bukan aku bekerja buat uang. Baiklah ini beberapa tips supaya investasi kami bisa tepat dan menguntungkan. Lagi-lagi ini berdasarkan pengalaman alumnus yang kelulusannya baru seumur jagung. :)

1. Pastikan Besaran Investasi
Selain investasi, kita tentu butuh biaya lain-lain dalam sebulan waktu menghabiskan gaji kita atau pendapatan lainnya. Karena itu, menjadi penting untuk menentukan besaran dana yang akan kamu investasikan dalam bentuk apa pun. Pastikan besaran dana itu tetap tiap bulan, bahkan kalau bisa bertambah, tapi jangan berkurang. Idealnya dana yang digelontorkan buat investasi itu sekitar 20% dari pendapatan. Dengan begitu, kamu masih memiliki cukup dana untuk biaya operasional, hura-hura, dan kebutuhan lain.

Dengan persentase, tidak ada alasan bahwa gaji A yang lebih kecil tidak bisa membuatnya berinvestasi.

2.  Tentukan Target
Anak kecil saja punya cita-cita, masak kamu tidak? Pasti semua orang punya keinginan. Karena itu, jadikan keinginan tersebut sebagai motivasi investasimu. Kamu harus menentukan target yang ingin kamu raih dan memperhitungkan besaran anggaran yang dibutuhkan untuk mencapai keinginan tersebut. Sebagai contoh, kamu berinvestasi karena ingin liburan keliling Eropa atau untuk biaya pernikahan dan membeli rumah. Itu semua bisa diatur. Dengan menetapkan target, kamu bisa menentukan pula jenis investasi yang cocok.

Investasi tanpa target itu ibarat berlari di treadmill, capai doang tanpa sampai tujuan.

 3. Batasi Waktunya
Kita duduk di bangku SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA sama juga 3 tahun, kuliah juga sekarang dibatasi sehingga tak bisa menjadi mahasiswa abadi, begitu pula dengan waktu investasi. Dana yang biarkan mengelola dirinya sendiri itu bukannya tanpa batas waktu. Setelah punya target, kamu tentu ingin dia terealisasi, bukan? Maka dari itu, buatlah ketetapan waktu untuk memenuhi target itu. Penetapan waktu ini akan berpengaruh juga terhadap jenis investasi yang akan kamu ambil sesudahnya. Tidak mungkin menyiapkan dana membeli rumah untuk 50 tahun ke depan. Ingat umur juga kali.

Yang namanya investasi biasanya jangka waktunya lebih panjang daripada menabung. Mungkin tiga tahun ke atas kamu baru merasakan hasilnya.

4. Cari Informasi 
Malu bertanya, sesat di jalan. Ungkapan tersebut kayaknya everlasting banget untuk segala situasi, termasuk ketika kita hendak berinvestasi. Informasi yang kuat adalah fondasi yang kokoh untuk merancang investasimu. Jika dulu kebanyakan orang buta tentang investasi, sekarang mbah gugel menyediakan segalanya. Kamu bisa belajar banyak dari sana. Namun, lebih baik lagi jika kamu tanya teman-teman yang sudah berinvestasi lebih awal. Pengalaman mereka adalah guru yang bijak bagi kamu. Jangan sampai karena kurangnya informasi, kamu salah memilih jenis investasi sehingga hasilnya kurang memuaskan. Jangan sampai pula karena minim pengetahuan, kamu malah terjebak dalam investasi yang menipu.

Lebih baik jika investasi yang kamu pilih memiliki jaminan yang pasti. Kalau deposito atau saham, baiknya kamu telusuri bank atau perusahaannya. Lebih baik yang ada jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan.

5. Tetapkan Jenisnya
Sama seperti makanan, jenis investasi ini bisa dibilang sesuai selera. Ada yang lebih memilih investasi jenis emas perhiasan, logam mulia (LM), deposito, reksadana, ataupun saham. Namun yang mesti kamu ingat, pemilihan jenis investasi itu harus disesuaikan juga dengan target dan waktu. Jika kamu menentukan kamu ingin ASEAN trip dalam tiga tahun ke depan, mungkin reksadana risiko rendah adalah pilihan yang cocok. Namun, jika tujuannya mungkin untuk membeli rumah dalam 10-15 tahun mendatang, alangkah lebih baik beranikan diri untuk bermain saham.
Tiap jenis investasi memiliki risiko dan pertumbuhan uang yang berbeda.

6. Bergerak!
Kamu sudah punya target dan waktu kapan ingin melaksanakan target itu. Kamu juga sudah gali-gali informasi dari banyak orang juga dari internet. Niatmu pun sudah besar untuk mulai berinvestasi. Namun, jika itu semua keinginan, tentu tidak ada kemajuan. Saatnya kamu bergerak! Langsung sisihkan pendapatanmu di awal  bulan guna diinvestasikan. Jangan menunda-nunda. Penundaan itu hanya membuat waktu pemenuhan targetmu semakin mundur.

Sebisa mungkin mulailah berinvestasi dari gaji pertama yang kamu dapat agar terbiasa. 

 Selamat berinvestasi. Jangan pikirkan prestasinya dalam beberapa bulan ke depan ya, tapi pikirkan cara kamu bisa melawan inflasi dan akhirnya hidup akhirnya layaknya rekreasi yang tiada beban. (*)
 

Kamis, 04 Desember 2014

Tung Itung-itung buat Nabung!

Berapa kira-kira uang yang bisa Anda tabung dalam sebulan? Kalau saya pribadi, mungkin tidak sampai 10 persen gaji. Dulu pas awal-awal bekerja, saya pernah menabung sampai 30 persen gaji. Harapannya, uangnya bisa segera banyak dan semua keinginan bakal segera terkabul. Nyatanya, inflasi merenggut segalanya!

Tiap bulan waktu itu saya hidup sangat hemat, membagi uang upah ke berbagai pos, dengan yang terbesar ada di pos tabungan. Itu dia, supaya bisa senang-senang di kemudian hari. Selang beberapa bulan, untuk anaknya cepat sadar. Pos tabugan di buku rekening kian menurun gara-gara dipotong biaya administrasi bank. Bunga bank? Ada sih, tapi paling Rp 100,-. Ironis.


sumber: dearfrenz.com




Pas saya coba hitung-hitung kira-kira uang tabungan yang sudah saya kumpulkan bisa dipakai untuk apa, ternyata hasilnya mengecewakan. Kenapa? Soalnya harga-harga barang naik, biaya transportasi naik, tapi tabungan malah cenderung terus beberapa ribu rupiah tiap bulan.

Berbekal rasa kesal, akhirnya saya coba mencari ilmu soal "menabung yang benar". Alhasil, ternyata untuk mengalahkan inflasi yang membuat nilai tabungan semakin kecil, investasi adalah jawabannya.

Mulai dari sana, porsi untuk pos tabungan saya perkecil. Tidak sampai 10 persen. Kalau gila, mungkin saya akan menginvestasikan semua jatah tabungan yang dulu untuk investasi. Namun, ada logika yang berjalan bahwa kadang kala ada kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditanggulangi oleh pencairan investasi yang tidak terlalu cair. Jadinya, si tabungan ini tetap ada untuk hal-hal urgen, bisa juga untuk liburan atau membeli sesuatu yang diinginkan. Intinya, yang penting adan tabungan untuk jaga-jaga. Kalau mau biar uangnya numbuh, investasikan saja!

Ya, ini cuma pengalaman sih dari alumnus baru seumur jagung menyandang predikatnya. (*)