"Saat liburan ini berakhir, aku
ingin ada yang menemaniku”
Bunyi gesekan batang
ranting terdengar jelas menemani satu-satu langkahku. Mengitari tempat ini
sungguh tidak membosankan. Memandang langit yang telah kelam tanpa bintang.
Kata ibu: Ini pasti pertanda hujan. Aku tak peduli. Bukankah jika hujan datang,
keromantisan jalan ini akan semakin bertambah? Yang terdengar bukan hanya
ranting-ranting yang saling beradu, melainkan juga tetes-tetes hujan yang
berhambur ke bumi. Sungguh, suasana yang tercipta pasti akan romantis jika
hujan benar-benar tiba.
Aku
memandang jalan lurus di depanku yang dihiasi pohon-pohon sakura yang tak
berbunga. Aku menatap tanjakan-tanjakan yang sempat kulalui bersama banyak
tapak kaki yang gembira. Aku menghela napas sebentar. Aku tersenyum dan kembali
memandang langit yang kilaunya telah lama memudar.
***
“Anginnya
kencang!” seru Lintang sembari merapikan poninya yang berantakan. Kemudian, ia
berlari menjauhi pinus-pinus yang seolah gontai diterpa angin. “Ayo, cepat!”
katanya kembali. Ia mengayun-ayunkan tangannya tinggi, menyuruh kami agar
segera mengikuti langkahnya.
Derap
kaki kami menjadi serempak. Berlari mengikuti jejak kaki Lintang yang entah
mengapa terasa begitu ringan. Ia berlari cepat. Hanya tawa riangnya yang
terdengar sesekali menggema di tempat ini. Ah, liburan ini pasti akan lebih
menyenangkan jika angin tidak berembus terlalu kencang. Tidak takutkah Lintang
jika angin itu akan merobohkan pinus-pinus yang rapuh itu? Tidak takutkah
Lintang jika angin itu juga akan menerbangkan ranting-ranting tajam ke arahnya?
Kuyakin tidak. Buktinya, ia masih berlari dengan tegar menuju tempat yang ingin
ia tuju. Tempat yang sempat kuceritakan pagi tadi saat kami masih di
penginapan. Sebuah air terjun. Karena
keberaniannya pula kami diberanikan. Entah mengapa, kami semua akhirnya
menghapus rasa takut kami untuk menemani Lintang.
“Aku
takut,” ujar Indri. Dengan perlahan ia menghentikan langkahnya. Berdiri dengan
muka pucat, kemudian menggelengkan kepalanya kencang. “Anginnya makin kencang.
Ini bahaya, tahu!”
Aku
mengerti kekhawatiran Indri. Kegusarannya melihat angin yang semakin ganas.
Jujur, keberanianku juga semakin luluh. Rasa takut mencuat. Takut akan
kematian. Ya, manusiawi bukan?
“Gue
juga.” Akhirnya, Rino ikut-ikutan. Disusul kemudian dengan yang lain.
Keberanian Indri mengungkap ketakutannya telah menghilangkan keberanian yang
lain untuk ikut ekspedisi Lintang.
Satu persatu dari kami
memutuskan untuk mundur dan kembali ke penginapan. Aku pun setuju. Kudengar
langkah kaki Lintang yang semakin menghilang. Ia telah semakin jauh. Kukatakan
pada semua bahwa kami harus mengajak Lintang pula untuk kembali. Mereka
mengangguk. Aku dan beberapa temanku berlari mengejar Lintang. Kudapati ia sedang
mengagumi dahan-dahan sakura yang belum juga berbunga.
“Sepertinya sebentar
lagi kita akan sampai, loh,” ujarnya
menyadari kehadiranku
. “Masih
jauh, Tang. Bahkan aku agak lupa tempatnya. Angin juga makin kencang. Yang lain
sepakat buat balik ke penginapan.” Aku berusaha memberi penjelasan. Teman-teman
yang ikut denganku mengangguk menyetujui.
Wajah
Lintang sarat dengan kekecewaan. “Padahal kan
udah hampir nyampe,” katanya pelan.
“Kita
lanjutin liburan yang selanjutnya aja ya, Tang.”
Dia
menggeleng. “Liburan berikutnya aku mau ke tempat lain. Jadi liburan yang ini
harus diselesaikan dululah,” rengeknya memelas.
Akan
tetapi, kami semua sudah memutuskan. Liburan kali ini berakhir. Angin kencang
telah memporak-porandakan rencana kami. Kami harus kembali ke penginapan.
“Ya
sudah, kalau kalian mau pulang, pulang saja. Aku masih mau liburan. Aku masih
mau melihat air terjun. Sendirian juga bisa, kok!”
Mendengar
keputusan Lintang, kami semua berpandangan. “Dia akan kembali kok kalau anginnya makin kencang dan ia
rasa semakin berbahaya. Dia sudah dewasa, kan?”
kata salah seorang temanku. Ia berusaha menenangkanku dan kami semua yang hanya
bisa terpaku pada pijakan kami saat melihat Lintang terus berlari menjauhi
kami. Aku menganguk, meyakini diri sendiri bahwa perkataan temanku itu benar.
***
Aku
masih memandang kelamnya langit. Rintik hujan pertama jatuh tepat di batang
hidungku. Aku tersenyum sendiri. Kata Ibu: Jika rintik hujan pertama jatuh di
hidungmu, kamu akan mendapatkan pria idamanmu. Ah, benar tidak ya? Kalau iya,
apa aku bisa menukarnya dengan permintaan lain? Aku hanya ingin pria idamanku
mau berlibur bersamaku saat ini. Tidak peduli cuaca buruk atau gelapnya malam.
Rintik
air yang jatuh bukan lagi tetes demi tetes. Hujan dengan cepat mengguyur semua
yang ada di bumi, termasuk aku. Aku menggigil, namun aku merasa bahagia. Aku
terdiam cukup lama. Mungkin benar kata mereka, sudah saatnya aku menyudahi
liburan ini. Aku harus kembali.
Aku
menengadahkan kepalaku menantang hujan. Ah, apa bedanya hujan dengan air
terjun. Sama-sama jatuh dari tempat tinggi, bukan? Ya, anggap saja ini adalah
air terjun yang Tuhan kirim untuk mengobati liburanku yang kacau karena cuaca.
Ya, anggap saja demikian.
Aku
tersenyum. Kemudian, kulangkahkan kaki menjauhi pohon-pohon sakura yang gundul
ini. Kunaiki tanjakan yang sempat kuturuni bersama dengan yang lain. Ah, kali
ini aku sendiri menaikinya.
***
Mataku
nanar dan sembab. Aku hanya bisa memandang Lintang dengan nelangsa. Matanya
tersenyum seolah-olah berkata, “Kenapa kamu menangis?” Aku merasa air mata
mulai membentuk sungai kecil di pipi. Kutahan isakku. Aku menyesal
Lintang. Sungguh, aku menyesal karena tidak menemani liburanmu kemarin. Aku
menyesal telah membuatnya berlibur sendiri ke tempat asing kini. Aku menyesal
Lintang. Sungguh.